Rakyat Indonesia semakin ”pintar dan kreatif” dalam melakukan aksi demonstrasi. Berbagai cara dilakukan, dari yang lucu dan menarik perhatian sampai yang terkesan tidak berpendidikan. Demo yang lucu dan menarik perhatian, contohnya saja demonstrasi yang dilakukan anak2 Trisakti, mereka diatas metromini sambil bernyanyi2 dan ”halo2” kepada cewe2 di dalam busway. Terkadang orang yang berdemo hanya jajan-jajan saja disana atau berjoget dengan iringan lagu dangdut. Sementara demo yang terkesan tidak berpendidikan, sebut saja demo yang membawa miniatur peti mati dan bendera kuning, hingga yang paling fresh adalah demonstrasi 100 hari kinerja SBY-Boediono dengan membawa iring-iringan kerbau yang diberi nama ”Si Bu Yo”.
Demonstrasi memang sah-sah saja, sebagai simbol negara demokrasi. Namun, tentunya demonstrasi harus dilakukan dengan sewajarnya dan tetap menjunjung tinggi etika. Sebagai seorang mahasiswa, saya sungguh sedih melihat kenyataan ini. Apakah masyarakat Indonesia tidak pernah dididik untuk menghormati orang lain? Ironis sekali...
Berita di detik.com pada hari Rabu, 3 Februari menuliskan bahwa aksi demonstrasi unik yang dilakukan oleh Yosef Rizal dengan membawa kerbau yang dinamakan ”Si Lebay” pada tanggal 28 Januari lalu tidak bermaksud untuk menyindir seseorang. Dengan gampangnya dia beralibi, ” Kalau dia tidak merasa (gendut dan lamban) jangan tersinggung dong.”
Sekali lagi, saya hanya dapat berkata, ckckck...
Kita dapat melihat bahwa di dalam aturan tata negara, seorang Presiden RI selain Kepala Pemerintahan juga Kepala Negara yang merupakan simbol negara. Maka di dalam kapasitas selaku simbol negara sudah seharusnya warga negara memperlakukan secara hormat Kepala Negara.
Terlepas dari perbedaan pandangan politik yang ada, tetap tidak pantas seorang Kepala Negara dipersonifikasikan sebagai binatang dan diteriaki sebagai maling. Apalagi tindakan tersebut sama sekali tidak ada korelasinya dengan ujuan atau substansi unjuk rasa 100 hari pertama SBY-Boediono.
Sebagai warga negara yang baik dan beragama, sudah sepantasnyalah kita menghormati orang lain, terlebih lagi Presiden kita sendiri. Bangsa yang baik adalah bangsa yang dapat menghormati kepala negaranya.
"Jadi yang Presiden tekankan bukan sebagai personal, melainkan sisi simbol negara itu. Kalau kita tidak menghormati, bagaimana mengharapkan kita dihormati negara lain. Ini sangat ironis," sambung Julian.
Meskipun demikian, saya sungguh bangga akan reaksi Presiden SBY. Beliau tidak marah apalagi menghimbau. Merasa tersinggung? Mungkin saja.. Wajar saja, beliau juga manusia. Bila anda tidak setuju dengan pendapat ini, cobalah anda berebsar hati sedikit, meletakkan diri anda di posisi beliau...
Presiden hanya menghimbau bahwa demonstrasi itu diperbolehkan sebagai bentuk demokrasi. Meskipun demikian, demonstrasi juga hendaknya tetap memiliki aspek-aspek menghormati. Coba anda pikir, bila kita ”berani” melakukan demonstrasi dengan cara demikian, apa untungnya? Dosa? Pasti?
Dan yang terlebih, MEMALUKAN. Semua koran di dunia pasti menyebarkan berita yang memalukan ini. Tidak ada kebanggaan yang didapat negara Indonesia dan masyarakatnya. Yang ada, mereka mungkin menertawakan negara kita dan kebodohan kita.
Sodara-sodaraku bangsa Indonesia, mari kita bersatu.. Berdemolah dengan tetap menjunjung tinggi aspek timur, aspek menghormati orang lain sebagaimana kita juga ingin diperlakukan dengan baik..
